Di era digital saat ini, downtime bisa berdampak besar, bukan sekadar menyulitkan, tetapi juga merugikan secara finansial.
Bayangkan jika aplikasi penting perusahaan tiba-tiba tidak bisa diakses, atau layanan pelanggan mengalami timeout saat jam sibuk. Inilah sebabnya mengapa konsep High Availability (HA) menjadi sangat krusial dalam pengembangan dan deployment aplikasi, terutama di lingkungan cloud seperti DCloud.
High Availability (HA) adalah pendekatan desain sistem yang memastikan suatu sistem, layanan, atau aplikasi untuk tetap tersedia dan berfungsi secara andal dalam jangka waktu yang lama, bahkan ketika terjadi gangguan atau kegagalan pada sebagian atau seluruh komponennya.
Baca Juga: Memahami Apa Itu Downtime: Penyebab, Dampak, dan Strategi Mencegahnya
Mengapa High Availability Penting?
Banyak yang beranggapan: “Kalau sudah pakai cloud, pasti aman“. Faktanya, cloud bukan jaminan 100% uptime. Downtime tetap bisa terjadi akibat berbagai hal, seperti kegagalan disk, server, network, hingga bencana seperti kebakaran, gempa bumi, atau bencana alam lainnya yang dapat menyebabkan kegagalan total pada data center.
Untuk itu, diperlukan pola pikir bahwa “Kegagalan sistem tidak dapat dihindari, tetapi dapat dimitigasi”.
Pada artikel ini, kita akan membahas konsep penerapan High Availability (HA) di lingkungan DCloud.
Fondasi HA: Menentukan Strategi Deployment
Sebelum melakukan deployment, kita perlu menentukan terlebih dahulu strategi yang akan digunakan. Ini seperti merancang pondasi rumah, tanpa fondasi yang kuat, arsitektur secanggih apa pun bisa roboh. Berikut ini adalah hal-hal yang perlu dipertimbangkan:
-
Deployment
Di DCloud terdapat dua jenis deployment yang bisa kamu gunakan, yaitu Virtual Machine dan Container.
– Virtual Machine (VM) adalah komputer virtual yang berjalan di atas komputer fisik dengan bantuan perangkat lunak khusus (hypervisor). VM memungkinkan sistem operasi dan aplikasi berjalan secara independen, seolah-olah berada di mesin fisik tersendiri.
– Container adalah unit komputasi ringan yang mengemas aplikasi dan lingkungan pendukungnya, berjalan secara terisolasi diatas sistem operasi yang digunakan oleh host.Baca Juga: Virtual Machine (VM) vs Container: Apa Saja Perbedaannya?
-
Penyimpanan
Bergantung pada kebutuhan sistem, DCloud menyediakan 3 jenis penyimpanan yang berbeda yaitu, File Storage, Block Storage, dan Object Storage.
– File Storage menyimpan data menggunakan struktur hierarki berupa direktori dan sub-direktori, menawarkan kemudahan dalam mengelola file, sehingga ideal untuk berbagi dokumen, kolaborasi, serta kebutuhan sehari-hari.– Block Storage menyimpan data dalam unit kecil bernama blok, memungkinkan akses cepat dan efisien untuk data yang bersifat transaksional seperti database.
– Object Storage menyimpan data dalam bentuk objek yang terdiri dari data itu sendiri, metadata, dan ID unik. Cocok untuk menyimpan data statis dan tidak terstruktur seperti file audio, media, ataupun arsip.
Baca Juga: Block Storage vs Object Storage vs File Storage: Apa Bedanya?
-
Database
Database atau basis data adalah sistem penyimpanan data yang dirancang agar data bisa dicari, dimanipulasi, dan diatur dengan efisien. Beberapa jenis database yang umum digunakan antara lain:
– Relational Database
– NoSQL Database
– Distributed DatabaseDi lingkungan DCloud, kamu bisa memilih untuk mengelola sendiri server database sesuai kebutuhan, atau menggunakan layanan DCloud RDB untuk kemudahan penggunaan relational database tanpa harus mengelola server, sistem operasi, dan instalasi sistem database.
-
Toleransi Gangguan
Toleransi gangguan adalah karakteristik desain sistem yang memungkinkan aplikasi atau infrastruktur tetap berjalan meskipun sebagian komponennya mengalami kegagalan atau gangguan. Toleransi gangguan bertujuan untuk:
– Mencegah downtime total
– Menjaga ketersediaan layanan atau aplikasi
– Memastikan pengalaman pengguna dalam menggunakan layanan atau aplikasi tidak terganggu. -
Backup vs Replikasi
Masih berhubungan dengan poin di atas, backup dan replikasi adalah dua komponen penting dalam strategi toleransi gangguan.
– Untuk aplikasi yang tidak kritikal atau yang memberikan dampak minim terhadap operasional bisnis, penggunaan backup sudah cukup.
– Namun, untuk aplikasi yang kritikal dan berdampak besar terhadap operasional, replikasi menjadi pilihan yang lebih tepat.Berikut adalah tabel perbandingan antara backup dan replikasi untuk membantu kamu lebih memahami perbedaan dan fungsi keduanya:
Baca Juga: Backup vs Replikasi: Apa Perbedaannya? -
Topologi High-Availability
Topologi High-Availability (HA) adalah rancangan arsitektur sistem yang dirancang agar layanan tetap tersedia, bahkan saat terjadi gangguan atau kegagalan pada sebagian komponen. Tujuannya adalah untuk mengurangi downtime dan memastikan layanan tetap berjalan.
Jenis-jenis topologi high-availability adalah sebagai berikut:
– Aktif-Pasif. Pada topologi ini, satu node (server/sistem) aktif, node lainnya standby. Saat node aktif mengalami gangguan, sistem secara otomatis berpindah ke node standby.
Topologi ini memiliki keunggulan konfigurasi yang lebih sederhana dan hemat sumber daya, tetapi waktu failover relatif lebih lambat, karena node pasif tidak digunakan sampai terjadi gangguan.
– Aktif-Aktif. Semua node aktif dan melayani beban secara bersamaan. Jika salah satu node gagal, node lain langsung menanggung beban dari node tersebut.
Topologi ini memungkinkan performa yang lebih tinggi dan failover secara instan, tetapi penggunaan sumber daya lebih boros karena semua node aktif secara bersamaan.
Setelah menentukan strategi deployment, jenis penyimpanan, dan pendekatan HA, langkah selanjutnya adalah menggambarkan arsitektur secara visual. Di bawah ini adalah contoh diagram strategi High Availability dengan pendekatan aktif-aktif:

Pada gambar di atas, aplikasi dijalankan di dua data center, yaitu DC1 dan DC2. Untuk aset seperti file dan media, digunakan multi-site object storage, sehingga setiap penambahan atau perubahan objek secara otomatis direplikasi ke DC2.
Akses dari frontend ke backend melewati load balancer yang memastikan lalu lintas selalu aktif di kedua DC. Sementara itu, database clustering digunakan untuk menyinkronkan data antara kedua lokasi.
Jika terjadi kegagalan di salah satu data center, misalnya DC1, load balancer secara otomatis akan mendeteksi kegagalan tersebut dan mengalihkan lalu lintas ke VM di DC2. Dengan konfigurasi clustering yang tepat, posisi aktif akan langsung berpindah ke DC2 dan layanan tetap dapat diakses tanpa interupsi yang berkepanjangan.
Baca Juga: Apa Itu Load Balancing: Pengertian, Cara Kerja, dan Kelebihannya
Penutup
Membangun aplikasi yang selalu siap dan selalu siaga bukan hanya untuk perusahaan besar. Bahkan startup sekalipun bisa, dan sebaiknya mulai menerapkan prinsip High Availability (HA) sejak awal.
Penerapan HA di DCloud sangat fleksibel, mulai dari VM biasa hingga container dan storage canggih, semua bisa disesuaikan dengan kebutuhan kamu.
Tertarik untuk menerapkan High Availability di DCloud dan butuh bantuan merancang arsitekturnya? Hubungi kami melalui info@datacomm.co.id.
Baca Juga: 7 Alasan DCloud Jadi Solusi Tepat untuk Transformasi Digital Bisnis Kamu