Sky computing adalah langkah terbaru dalam perkembangan teknologi cloud. Jika selama ini perusahaan menggunakan beberapa layanan cloud secara terpisah, sky computing hadir untuk menyatukan semuanya. 

Dengan pendekatan ini, layanan dari berbagai penyedia cloud bisa saling terhubung dan bekerja sama, sehingga sistem menjadi lebih fleksibel, efisien, dan mudah dikelola.

Lalu, apa itu sebenarnya sky computing?

Baca Juga: Apa itu Cloud Computing? Pengertian, Jenis Layanan, dan 5 Kelebihan Menggunakannya 

Asal-Usul Konsep Sky Computing

Bukan sekadar multi-cloud atau hybrid cloud, sky computing memungkinkan integrasi menyeluruh antar berbagai cloud provider, sehingga pengguna bisa memilih layanan terbaik dari masing-masing penyedia sesuai kebutuhan spesifik mereka.

Konsep sky computing pertama kali diperkenalkan oleh para peneliti dari University of California, Berkeley, melalui pendirian Sky Computing Lab pada tahun 2021. 

Laboratorium ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem cloud yang lebih terbuka dan mudah terhubung, memungkinkan pengguna untuk memanfaatkan berbagai layanan cloud secara bersamaan tanpa terkendala oleh perbedaan antar penyedia layanan.

Salah satu publikasi awal yang mendasari konsep ini adalah makalah berjudul “From Cloud Computing to Sky Computing” yang dipresentasikan pada konferensi HotOS 2021. 

Dalam makalah tersebut, para peneliti mengusulkan model komputasi yang memungkinkan aplikasi berjalan di atas berbagai cloud tanpa perlu modifikasi signifikan, dengan memanfaatkan broker intercloud untuk mengelola keterhubungan antar layanan.

Baca Juga: Perbedaan Public Cloud vs Private Cloud vs Hybrid Cloud: Mana yang Cocok untuk Kamu? 

Sky Computing: Evolusi Selanjutnya dari Cloud Computing

Jika cloud computing selama ini dikenal sebagai solusi untuk menyederhanakan infrastruktur TI dengan memindahkan sistem ke cloud, maka sky computing adalah fase lanjutan dari evolusi tersebut. 

Sky computing memungkinkan pengguna untuk mengakses, mengelola, dan mengoptimalkan workload secara lintas cloud tanpa terikat pada satu vendor saja.

Konsep ini dikembangkan untuk menciptakan ekosistem cloud yang terbuka dan lebih inklusif, di mana pengguna bebas memilih layanan terbaik dari setiap penyedia tanpa terkendala masalah kompatibilitas atau integrasi.

Baca Juga: Mengapa Investasi Cloud Computing Menjadi Pilihan yang Menjanjikan? 

Lalu, Apa Bedanya Multi-Cloud dengan Sky Computing?

Perbedaan Multi-Cloud dengan Sky Computing

Sekilas, sky computing terdengar mirip dengan pendekatan multi-cloud. Namun ada perbedaan mendasar. 

Multi-cloud berarti menggunakan beberapa cloud provider dalam satu organisasi, tetapi biasanya tidak saling terintegrasi. Setiap layanan berjalan sendiri-sendiri, dan manajemennya pun dilakukan secara terpisah.

Sky computing membawa pendekatan yang lebih terkoordinasi. Workload dapat berpindah antar platform secara otomatis, data dapat diakses lintas cloud, dan semua sistem dapat dikelola dari satu lapisan yang seragam. 

Artinya, sky computing menjembatani perbedaan antar cloud provider agar dapat beroperasi secara kolaboratif.

Dua Lapisan Utama Sky Computing

Dua Lapisan Utama Sky Computing

Sky Computing dijelaskan melalui dua lapisan utama yang menjadi fondasi teknologinya:

  1. Compatibility Layer
    Lapisan ini bertujuan menyamarkan perbedaan teknis antar penyedia cloud. Dengan adanya lapisan ini, aplikasi dapat dijalankan di berbagai cloud tanpa perlu penyesuaian besar-besaran, sehingga mendukung portabilitas dan fleksibilitas tinggi.
  2. Intercloud Layer
    Lapisan ini berfungsi untuk secara otomatis memilih layanan cloud terbaik berdasarkan harga, performa, atau kebutuhan lainnya. Ia juga mengelola perpindahan workload antar cloud agar proses tetap efisien dan optimal.

Selain dua lapisan utama ini, beberapa inisiatif open-source telah mengembangkan layanan tambahan di atasnya. Misalnya, SkyPilot menyediakan fitur orkestrasi lintas cloud yang dapat dianggap sebagai bagian dari upaya menghadirkan “layanan sky computing” di tingkat praktis.

Mengapa Sky Computing Diperlukan?

Beberapa alasan utama mengapa sky computing mulai dilirik oleh berbagai organisasi adalah:

  • Menghindari ketergantungan pada satu vendor cloud (vendor lock-in)
  • Mengoptimalkan biaya dengan memilih layanan berdasarkan performa dan efisiensi harga
  • Meningkatkan ketersediaan dan keandalan sistem
  • Memberikan fleksibilitas untuk menyesuaikan kebutuhan bisnis dengan cepat

Dengan sky computing, perusahaan memiliki kebebasan untuk menyesuaikan arsitektur TI mereka berdasarkan kebutuhan spesifik dan dinamika pasar.

Baca Juga: Mengenal Green Cloud Computing: Menuju Masa Depan Berkelanjutan dengan Teknologi Ramah Lingkungan 

Konsep Pendukung: Reciprocal Peering

Untuk benar-benar mewujudkan ekosistem sky computing yang terbuka, para peneliti juga mengusulkan konsep reciprocal peering, sebuah bentuk kerja sama timbal balik antar penyedia cloud.

Konsep ini mirip dengan sistem peering antar ISP di dunia internet, di mana dua pihak saling memberikan akses langsung terhadap jaringan mereka tanpa biaya tambahan. 

Dalam konteks cloud, reciprocal peering berarti penyedia layanan cloud saling membuka akses data secara langsung dan gratis, tanpa biaya egress atau hambatan performa.

Tujuannya adalah untuk menghilangkan penghalang biaya dan teknis yang selama ini membatasi perpindahan data atau workload antar cloud. Dengan pendekatan ini, sky computing bisa benar-benar berjalan lintas penyedia secara efisien dan adil.

Tantangan dalam Mengadopsi Sky Computing

Meskipun menjanjikan, penerapan sky computing bukan tanpa hambatan. Beberapa tantangan yang dihadapi antara lain:

  • Kurangnya standarisasi antar penyedia layanan cloud
  • Kompleksitas dalam mengelola keamanan dan kepatuhan data di berbagai platform
  • Sulitnya mengintegrasikan sistem lama (legacy systems) ke dalam ekosistem yang dinamis
  • Keterbatasan sumber daya manusia dengan keahlian multi-cloud dan orkestrasi lintas platform

Namun, seiring berkembangnya teknologi seperti kubernetes, containerization, dan cloud-native orchestration tools, tantangan ini mulai dapat diatasi secara bertahap.

Baca Juga: Apa Itu LOKI (Linux, OpenStack, Kubernetes Infrastructure) dalam Cloud Computing? 

Menatap Masa Depan Komputasi yang Lebih Terbuka

Sky computing menawarkan paradigma baru dalam pengelolaan infrastruktur TI yang lebih fleksibel, efisien, dan adaptif. 

Di era di mana kebutuhan teknologi berubah dengan cepat, pendekatan ini memberikan perusahaan kemampuan untuk bergerak lebih dinamis, bebas memilih teknologi terbaik, dan mengoptimalkan sumber daya secara maksimal.

Dengan sky computing, dunia cloud bukan lagi sekadar tempat untuk menyimpan data atau menjalankan aplikasi, melainkan ekosistem terbuka yang saling terhubung dan siap mendukung inovasi tanpa batas.

Baca Juga: 7 Alasan DCloud Jadi Solusi Tepat untuk Transformasi Digital Bisnis Kamu 

About The Author

Follow by Email
LinkedIn
Share
WhatsApp