Banyak bisnis sudah memahami pentingnya disaster recovery (DR), yaitu strategi untuk memulihkan sistem dan data penting ketika terjadi gangguan, serangan siber, atau bencana. Namun dalam praktiknya, masih banyak perusahaan yang keliru dalam merancang atau menjalankan strategi ini.

Akibatnya, saat insiden benar-benar terjadi, sistem tetap lumpuh, data sulit dipulihkan, dan operasional bisnis terhenti total.

Agar hal tersebut tidak terjadi pada bisnis kamu, berikut 6 kesalahan paling fatal dalam disaster recovery yang perlu kamu hindari, berdasarkan pengalaman kami dan praktik terbaik (best practices) yang direkomendasikan oleh para ahli.

  1. Mengira Backup Saja Sudah Cukup

    Banyak perusahaan merasa sudah aman karena punya Backup. Padahal Backup hanya menyimpan salinan data – bukan pemulihan sistem.

    Tanpa strategi disaster recovery yang jelas, proses pemulihan bisa memakan waktu lama, bahkan berhari-hari. Akibatnya, bisnis kehilangan waktu, pelanggan, hingga pendapatan.

    Intinya, backup melindungi data, tapi disaster recovery memastikan operasional bisnis tetap berjalan.

  2. Tidak Melakukan Uji Coba (Testing) Secara Berkala

    Rencana secanggih apa pun akan percuma jika tidak pernah diuji. Banyak perusahaan sudah memiliki dokumentasi lengkap, tapi ketika bencana datang, rencana tersebut gagal dijalankan karena belum pernah diuji sebelumnya.

    Melakukan uji coba disaster recovery secara rutin membantu memastikan seluruh sistem, prosedur, dan tim benar-benar siap. Pengujian ini juga dapat mengidentifikasi celah sejak dini, sebelum masalah besar benar-benar terjadi.

    Singkatnya, rencana disaster recovery harus diuji secara berkala agar benar-benar siap saat dibutuhkan.

  3. Tidak Ada Prioritas Aplikasi Kritis

    Tidak semua aplikasi perlu dipulihkan bersamaan. Namun, banyak bisnis yang tidak menentukan prioritas layanan paling penting bagi operasional mereka.

    Misalnya, sistem keuangan atau customer service harus menjadi prioritas utama dibandingkan sistem pendukung lainnya. Tanpa daftar prioritas yang jelas, waktu pemulihan (RTO – Recovery Time Objective) bisa jadi tidak efisien.

    Kesimpulannya, tentukan urutan pemulihanpemulihan agar disaster recovery berjalan cepat dan tepat sasaran.

  4. Tidak Memperbarui Rencana Disaster Recovery Saat Infrastruktur Berubah

    Bisnis berkembang dan teknologi berubah, namun sayangnya, banyak organisasi lupa memperbarui rencana disaster recovery-nya. Akibatnya, strategi lama tidak lagi relevan dengan kondisi sekarang.

    Pastikan rencana DR selalu diperbarui setiap kali terjadi perubahan besar pada infrastruktur TI, seperti migrasi ke cloud, penambahan server, atau pembaruan aplikasi.

    Pastikan rencana disaster recovery harus selalu di-update setiap ada perubahan signifikan, bukan hanya saat ada temuan audit.

  5. Backup dan Disaster Recovery di Lokasi yang Sama

    Kesalahan klasik namun masih sering terjadi, yaitu menaruh semua cadangan data di lokasi yang sama dengan sistem utama. Saat terjadi kebakaran, banjir, atau gempa di lokasi tersebut, semua sistem bisa hilang sekaligus.

    Solusinya, gunakan cloud-based disaster recovery agar data dan sistem cadangan berada di lokasi berbeda (offsite). Ini memberikan lapisan perlindungan tambahan jika pusat data utama gagal.

    Intinya, pakai offsite atau cloud-based backup dan disaster recovery untuk perlindungan tambahan ketika terjadi kegagalan pada lokasi utama.

  6. Tidak Melibatkan Tim dan Komunikasi yang Buruk

    Disaster recovery bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang manusia dan komunikasi. Banyak kegagalan terjadi karena tim tidak tahu perannya masing-masing, atau komunikasi antar departemen terputus saat krisis terjadi.

    Pastikan setiap anggota tim tahu siapa yang bertanggung jawab, langkah apa yang harus dilakukan, dan bagaimana berkoordinasi selama pemulihan sistem.

    Kesimpulannya, rencana yang jelas dan koordinasi tim yang solid menentukan keberhasilan pemulihan.

Studi Kasus

Sebagai penyedia layanan cloud dan disaster recovery, DCloud kerap menemui perusahaan yang merasa sudah “aman” karena memiliki backup data. Namun, saat gangguan benar-benar terjadi, operasional bisnis justru bisa berhenti total.

Disaster Recovery as a Service

Dari berbagai kasus yang kami temui, akar masalahnya hampir selalu sama: disaster recovery masih dipahami sebatas backup data. Sistem pemulihan tidak pernah diuji, tidak ada penetapan prioritas untuk aplikasi kritikal, dan strategi recovery jarang diperbarui mengikuti perubahan infrastruktur IT. Akibatnya, ketika insiden terjadi, baik karena kegagalan sistem, serangan siber, maupun gangguan fisik, tim IT sering kebingungan, proses pemulihan memakan waktu lama, dan bisnis harus menanggung risiko downtime serta penurunan kepercayaan pelanggan.

Kondisi ini mencerminkan enam kesalahan fatal dalam disaster recovery yang masih banyak dilakukan oleh organisasi saat ini.

Melalui solusi DReplicate, DCloud membantu perusahaan mengubah pendekatan tersebut dari sekadar backup data menjadi disaster recovery plan yang benar-benar siap dijalankan. Dengan replikasi sistem ke cloud DCloud secara incremental, mekanisme failover yang dapat diaktifkan kapan saja, serta pemisahan lokasi antara sistem utama dan cadangan, proses recovery menjadi lebih cepat, terukur, dan terkontrol.

Hasilnya, perusahaan tidak hanya yakin bahwa data mereka aman, tetapi juga memiliki kepastian bahwa aplikasi kritikal dapat kembali berjalan sesuai prioritas ketika terjadi bencana. Risiko downtime dapat ditekan, kesiapan tim meningkat, dan keberlangsungan bisnis tetap terjaga, tanpa perlu membangun infrastruktur disaster recovery sendiri.

Pulihkan Bisnis Lebih Cepat dengan DReplicate dari DCloud

DReplicate adalah solusi DRaaS dari DCloud yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan replikasi mesin virtual, baik dari on-premise maupun in-the-cloud, ke infrastruktur cloud DCloud yang andal.

Dengan sistem replikasi incremental, DReplicate hanya menyalin perubahan terbaru sehingga proses lebih cepat dan efisien. Solusi ini juga memungkinkan proses failover otomatis, menjaga konsistensi data, serta memastikan kelangsungan bisnis tetap berjalan meskipun terjadi bencana.

Mengapa DReplicate?

  • Tanpa agen tambahan: Lebih simpel, lebih cepat diadopsi.
  • Replikasi incremental: Hanya menyalin perubahan terbaru (efisien bandwidth & waktu).
  • Failover otomatis & konsisten: Operasional tetap jalan saat insiden.
  • Frekuensi replikasi fleksibel: Atur sesuai RPO bisnis.
  • Perlindungan menyeluruh: Jaga ketersediaan data & sistem inti.

Dengan DReplicate, kamu tidak hanya memiliki cadangan data, tetapi juga strategi pemulihan yang cepat, aman, dan dapat diandalkan.

Pelajari lebih lanjut atau hubungi tim DCloud sekarang untuk menemukan paket DReplicate yang sesuai dengan kebutuhan bisnis kamu!

About The Author

Follow by Email
LinkedIn
Share
WhatsApp