Migrasi cloud telah menjadi langkah strategis bagi banyak perusahaan dalam mempercepat transformasi digital.
Baik bisnis skala kecil hingga perusahaan besar, hampir semuanya menyadari keuntungan cloud, skalabilitas, efisiensi biaya, dan aksesibilitas tinggi. Namun, tidak sedikit organisasi yang menghadapi kendala serius karena melakukan migrasi tanpa persiapan matang.
Jadi, apa saja kesalahan umum yang sering terjadi saat migrasi cloud dan bagaimana cara menghindarinya?
-
Kurangnya Perencanaan Strategis
Kesalahan paling mendasar dalam proses migrasi cloud adalah terburu-buru tanpa rencana yang matang.
Banyak perusahaan langsung memindahkan sistem mereka ke cloud hanya karena tren, tanpa melakukan analisis menyeluruh terhadap kebutuhan bisnis, workload, dan infrastruktur TI yang ada.
Cara Menghindarinya:
– Buat roadmap migrasi yang jelas, identifikasi aplikasi dan data mana yang akan dipindahkan terlebih dahulu.
– Libatkan tim lintas fungsi, seperti TI, keamanan, dan bisnis, untuk menentukan prioritas dan potensi risiko.
– Lakukan proof of concept untuk memahami bagaimana workload berjalan di lingkungan cloud.Baca Juga: Rekomendasi Layanan Cloud Service Provider Indonesia Terbaik
-
Tidak Memperhitungkan Keamanan dan Kepatuhan
Migrasi ke cloud bukan berarti sepenuhnya menyerahkan urusan keamanan ke penyedia layanan.
Faktanya, model tanggung jawab bersama (shared responsibility model) menyatakan bahwa pelanggan tetap memiliki tanggung jawab atas data, konfigurasi, dan akses.
Berdasarkan laporan IBM Cost of a Data Breach Report 2023, 82% kebocoran data melibatkan data yang tersimpan di cloud, dan kesalahan konfigurasi adalah salah satu penyebab utamanya.
Cara Menghindarinya:
– Gunakan enkripsi untuk data saat transit dan saat diam (at rest).
– Terapkan kontrol akses berbasis peran (role-based access control).
– Pastikan cloud provider kamu patuh terhadap standar seperti ISO 27001, GDPR, atau regulasi lokal seperti PP 71/2019 di Indonesia.Baca Juga: Mengenal Shared Responsibility Model DCloud
-
Overprovisioning dan Biaya Tak Terkendali
Cloud memang menjanjikan penghematan biaya. Tapi tanpa pengelolaan yang tepat, penggunaan cloud bisa menjadi sangat boros.
Banyak organisasi yang melakukan lift and shift, memindahkan aplikasi ke cloud tanpa optimisasi, sehingga membayar kapasitas yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Laporan Flexera 2024 State of the Cloud menyebutkan bahwa sekitar 32% dari anggaran cloud terbuang sia-sia karena resource yang tidak dimanfaatkan secara optimal.
Cara Menghindarinya:
– Gunakan tools pemantauan biaya (cloud cost management).
– Pilih opsi auto-scaling dan reserved instance sesuai kebutuhan.
– Selalu lakukan evaluasi berkala terhadap pemakaian resource.Baca Juga: Boros Biaya Cloud? Saatnya Terapkan Cloud Cost Optimization!
-
Mengabaikan Latensi dan Lokasi Server
Jika bisnis kamu berbasis di Indonesia, namun menggunakan cloud yang server-nya berada di luar negeri, maka latensi bisa menjadi masalah serius. Hal ini akan berdampak pada performa aplikasi dan pengalaman pengguna.
Cara menghindarinya:
– Pilih cloud provider yang memiliki infrastruktur lokal.
– Uji kecepatan dan latensi sebelum memindahkan aplikasi utama.
– Pertimbangkan solusi hybrid atau multi-cloud agar lebih fleksibel. -
SDM Tidak Siap Mengelola Teknologi Cloud
Migrasi cloud mengubah cara kerja tim TI. Sayangnya, banyak perusahaan tidak memberikan pelatihan cukup kepada staf mereka, sehingga transisi berjalan lambat atau gagal.
Cara menghindarinya:
– Adakan pelatihan dasar hingga lanjutan terkait cloud.
– Gunakan jasa konsultan cloud berpengalaman atau cloud provider yang menyediakan onboarding.
– Buat dokumentasi internal agar alur kerja mudah diikuti semua tim. -
Salah Memilih Cloud Provider
Tidak semua cloud provider cocok untuk semua jenis bisnis. Mengandalkan nama besar saja tanpa mempertimbangkan kebutuhan lokal dapat menyebabkan vendor lock-in atau kurangnya dukungan teknis.
Cara menghindarinya:
– Evaluasi SLA, fitur keamanan, dan layanan support.
– Pertimbangkan menggunakan cloud lokal yang paham kebutuhan dan regulasi di Indonesia.
– Gunakan pendekatan hybrid atau multi-cloud jika diperlukan.Maka dari itu, kamu perlu memilih cloud provider yang aman dan terpercaya seperti DCloud!
Gunakan Cloud Lokal yang Andal Seperti DCloud

Jika kamu ingin menjalankan proses migrasi cloud yang aman, efisien, dan sesuai regulasi Indonesia, maka DCloud dari PT Datacomm Diangraha adalah pilihan yang tepat. Sebagai penyedia layanan cloud lokal, DCloud memiliki beberapa keunggulan:
- Infrastruktur cloud yang di-host di Indonesia, memastikan latensi rendah dan kepatuhan terhadap peraturan lokal.
- Dukungan teknis lokal yang cepat dan berbahasa Indonesia.
- Keamanan enterprise-grade yang memenuhi standar internasional.
- Fleksibilitas yang cocok untuk UMKM, startup, maupun perusahaan besar.
Dengan teknologi mumpuni dan dukungan lokal yang solid, DCloud hadir sebagai solusi migrasi cloud yang strategis dan terpercaya bagi bisnis di Indonesia.
Migrasi cloud bukan sekadar memindahkan data, tetapi merupakan perubahan strategi dan cara kerja. Banyak kegagalan dalam migrasi terjadi bukan karena teknologinya, tetapi karena kurangnya persiapan.
Dengan menghindari kesalahan umum di atas, bisnis kamu dapat menjalankan migrasi cloud secara efektif, aman, dan hemat biaya.
Baca Juga: 7 Alasan DCloud Jadi Solusi Tepat untuk Transformasi Digital Bisnis Kamu